Olimpiade Matematika IAIN Surabaya

1 02 2009

logoolimpiade2009

Petunjuk Pelaksanaan OLIMPIADE MATEMATIKA 2009

PETUNJUK TEKNIS DAN PETUNJUK PELAKSANAAN
OLIMPIADE MATEMATIKA 2009
TINGKAT MADRASAH TSANAWIYAH DAN ALIYAH NEGERI DAN SWASTA
SE-JAWA TIMUR
HIMAPTIKA IAIN SUNAN AMPEL SURABAYA

I. SYARAT KEPESERTAAN
Peserta Olimpiade Matematika 2009 harus memenuhi syarat sebagai berikut :
a. Peserta merupakan siswa/i MAN/MA dan masih terdaftar sebagai siswa/i pada saat Olimpiade Matematika 2009 untuk tingkat MA.
b. Peserta merupakan siswa/i MTsN/MTs dan masih terdaftar sebagai siswa/i pada saat Olimpiade Matematika 2009 untuk tingkat MTs.
c. Peserta merupakan delegasi dari sekolah masing-masing. (maksimal 5 orang tiap sekolah).
d. Peserta memenuhi syarat pendaftaran
Syarat Pendaftaran :
1. Menyerahkan formulir pendaftaran yang telah disediakan panitia dengan ditanda tangani Kepala Sekolah (sebagai surat delegasi)* .
2. Menyerahkan foto copy bukti transfer biaya pendaftaran dan menunjukkan bukti transfer yang asli.
3. Foto terbaru ukuran 3×4 (masing-masing 2 lembar); (mohon untuk di cantumkan nama masing-masing di belakang foto)
4. Mencantumkan contact person + telepon untuk tiap perwakilan sekolah.
5. Bagi pendaftar yang biaya pendaftarannya lewat rekening, harap segara menginformasikan kepada panitia.

II. BIAYA PENDAFTARAN
Biaya pendaftaran yang dikenakan pada tiap peserta Olimpiade Matematika 2009 sebesar Rp. 35.000,00,- (Tiga Puluh Lima Ribu Rupiah) untuk tingkat MtsN/MtsS maupun tingkat MAN/MAS.

III. MEKANISME PENDAFTARAN
a. Pendaftaran dapat dilakukan dengan cara, yaitu Pendaftaran langsung atau via pos
b. Pendaftaran dilakukan pada tanggal 15 – 31 Januari 2009
c. Pendaftaran di buka mulai jam 08.00 – 15.00 WIB setiap hari efektif. Bagi calon peserta yang mendaftar pada waktu diatas jam 15.00 WIB, harap menghubungi panitia
d. Hari libur tetap buka jam 08.00 – 14.00 WIB.
e. Pendaftaran boleh di kolektif atau diwakilkan oleh pihak sekolah atau salah satu calon peserta yang telah ditunjuk oleh pihak sekolah
f. Untuk pendaftaran biaya ditransfer ke:
Bank BTN Cabang IAIN Sunan Ampel Surabaya
a.n. ANIS SETYAWATI
Nomor Rekening : 00064-01-51-000862-9

IV. REGISTRASI
a. Setiap calon peserta Olimpiade Matematika 2009 diharuskan melakukan registrasi/daftar ulang.
Persyaratan Registrasi:
- Membawa kartu pelajar
- Bagi pendaftar langsung, di wajibkan membawa bukti pendaftaran yang diberikan oleh panitia.
- Bagi pendaftar via pos, diwajibkkan membawa bukti struk pengiriman
b. Bagi calon peserta yang mendaftar tetapi tidak melakukan registrasi, maka dianggap tidak terdaftar sebagai peserta.
c. Registrasi dilakukan pada tanggal 23 Maret 2009, jam 07:00 WIB yaitu sebelum acara dimulai.

V. PELAKSANAAN KEGIATAN
Olimpiade Matematika 2009 dibagi menjadi 2 tahap :
A. Babak kualifiskasi
Babak Kualifikasi, peserta akan mengerjakan 30 soal multiple choice.
B. Babak Final
Peserta yang masuk dalam babak final mengerjakan 5 soal essay yang kemudian nilai oleh tim juri.
VI. HADIAH :
Hadiah yang di sediakan oleh panitia sebesar Rp. 10.000.000 (Sepuluh Juta Rupiah) dengan rincian:
a. 5.000.000,00 untuk tingkat MTs/MTsN
b. 5.000.000,00 untuk tingkat MA/MAN
Keterangan:
Hadiah berupa Tropi, Uang tunai, sertifikat Prestasi olimpiade

VII. FASILITAS PESERTA
 Peralatan tulis
 Snack
 Sertifikat peserta
 Seminar “Motivasi Education”
 Name tag peserta

VIII. JADWAL OLIMPIADE MATEMATIKA 2009
SCHEDULE OLIMPIADE MATEMATIKA 2009
PUKUL ACARA
08.00-09.00 WIB Check in Peserta
09.00-09.30 WIB Opening Ceremony
09.30-10.00 WIB Pembacaan Tata Tertib Olimpiade
10.00-11.30 WIB Babak Kualifikasi
11.30-13.00 WIB Break
13.00-14.00 WIB Babak Final
14.00-15.30 WIB Seminar “Motivation Education”
15.30-16.45 WIB Pengunguman Hasil Olimpiade+Penyerahan Hadiah

IX. LAIN – LAIN
 Formulir pendaftaran dapat diperbanyak.
 15 menit sebelum acara, peserta harus sudah ada di lokasi acara (lihat di susunan acara).
 Peserta wajib hadir, tidak boleh diwakilkan.
 Peserta yang terlambat, tidak ada tambahan waktu pengerjaan soal
 Hal-hal yang belum jelas dapat dikonfirmasikan pada panitia.
TATA TERTIB PELAKSANAAN
OLIMPIADE MATEMATIKA 2009
HIMAPTIKA IAIN SUNAN AMPEL SURABAYA

1. Membawa dan memakai tanda peserta dari panitia
2. Menempati tempat duduk sesuai dengan nomer masing – masing
3. Tidak diperkenankan membawa :
- Segala macam kertas, buku, catatan
- Peralatan dan komunikasi
4. Dilarang mengerjakan soal sebelum mendapat izin dari panitia
5. Selama mengerjakan soal, dilarang :
- Pinjam atau meminjam alat tulis
- Berbicara / bertanya
- Menggunakan alat hitung
- Menerima / memberi catatan pada peserta lain
- Melihat / memperlihatkan jawaban pada peserta lain
- Meninggalkan ruangan tanpa izin panitia
6. Dilarang melakukan hal – hal yang mengganggu kelancaran pelaksanaan
7. Pelanggaran akan dikenakan sanksi :
- Pelanggaran pertama : peringatan
- Pelanggaran kedua : peringatan
- Pelanggaran ketiga : diskualifikasi
8. Keputusan dewan juri tidak dapat diganggu gugat

—————————————————————
Tambahan:
Petunjuk route perjalanan ke arah Lokasi pelaksanaan Olimpiade Matematika 2009
HIMAPTIKA IAIN SUNAN AMPEL SURABAYA
1. Dari segala arah turun di terminal Bungurasih – naik Bus Kota turun IAIN (tidak lewat Tol).
2. Dari segala arah turun di terminal Wilangon – naik Bus Kota turun IAIN Sunan Ampel.





PENGARUH SMACKDOWN TERHADAP PSIKOLOGIS ANAK-ANAK

19 12 2007

1. Sejarah Smackdown

Vince McMohan adalah orang yang mempunyai ide untuk membuat tayangan smackdown. Yang ada dipikirannya hanyalah terbayang untuk mendapatkan banyak uang dan popularitas. Hingga ia memproklamasikan acara gulat pura-pura pada 29 april 1999. terbukti, uang dan popularitas akhirnya benar-benar diraih olehnya. Ia juga pernah mempertarungkan petinju Muhammad Ali dengan pegulat Jepang, Antonio Inoki.
Smackdown sebenarnya terinspirasi dari tayangan World Championship Wrestling (WCW) Thunder yang muncul di TV kabel TBS pada 1988. baru pada tanggal 29 april 1999 World Wrestling Federation (WWF) membuat smackdown. Untuk melengkapi kesuksesan smackdown, pada Februari 2000, Toy Headquarters membuat sembilan seri game smackdown.
Smackdown begitu terkenal di Indonesia. Tidak jarang penggemarnya (terutama anak-anak) mengikuti gaya pura-pura dari bintang-bintang smackdown seperti John Cena, Rey Mysterio, Stone Cold, dan juga Kent. Adegan-adegan smackdown sudah begitu terkenal di berbagai media elektronik di Indonesia. Tidak hanya di stasiun televisi saja. Tetapi juga sudah banyak game-game smackdown yang beredar di pasaran. Akhir-akhir ini stasiun televisi yang menayangkan smackdown yaitu Lativi. Namun pada kenyataannya acara ini juga pernah ditayangkan pada tahun 2000 silam oleh RCTI dan TPI.
Smackdown tidak hanya tenar di Indonesia, tetapi hampir di seluruh dunia. Di Amerika, Eropa, dan Asia, smackdown begitu populer. Bahkan di Italia pemandangan sepak bola jalanan telah berganti dengan latihan meniru gerakan para pegulat, kendati secara reguler pihak TV selalu mencantumkan “jangan mencoba melakukannya di rumah”. Oleh karena itu, kecaman Lippi bagi pecinta sepak bola dianggap sebagai peringatan dini. Del piero, Totti, atau pahlawan Italia di piala dunia 2006, Marco Materazzi, adalah produk lokal yang dibina sejak kecil. Namun pada kenyataannya, tayangan smackdown telah menelikung dan meracuni benak bocah-bocah Italia.

2. Dampak Smackdown Terhadap Psikologis Anak-anak

Seorang anak di bandung tewas diduga telah dismackdown oleh teman mainnya. Akhirnya slah satu TV swasta langsung divonis sebagai biang keladi kekerasan anak yang lakukan akibat acara smackdown yang ditayangkannya. Berbagai pihak akhirnya mengultimatum agar acara ini dihapus alias tidak ditayangkan lagi.
Ultimatum ini tentunya bukan tanpa dasar yang jelas. Berikut ini merupakan data yang berhasil didapat yang termuat dalam buletin studia edisi 319/tahun ke-7(11 september 2006):
1. Reza Ikhsan Fadillah, 9 tahun, siswa SD Cingcing 1 Ketapang, Soreang, Bandung (meninggal 16 november 2006),
2. Angga Rakasiwi (11 th), siswa SD 7 Babakan Surabaya (dijahit lima jahitan di kening),
3. Fayza Raviansyah (4 tahum 6 bulan), siswa TK Al-Wahab Margahayu, Bandung (luka, muntah darah),
4. Ahmad Firdaus (9), siswa kelas III SD 7 Babakan Surabaya (pingsan),
5. Nabila Amal (6 tahun 6 bulan), siswa kelas I SD Margahayu Raya 1, Bandung (patah tulang paha),
6. Mar Yunani, siswa kelas III SD Wates Kulonprogo, Yogyakarta (gagar otak), dan
7. Yudhit Bedha Ganang (10), siswa kelas V SDN 5 Duren Tiga, Jakarta Selatan (luka pada kepala dan kemaluan).
Ini merupakan hal yang tidak bisa dianggap sepele. Dimana sudah banyak korban yang di akibatkan acara smackdown ini. Ini merupakan data-data yang dilaporkan. Mungkin masih ada lebih banyak lagi korban-korban yang berjatuhan akibat acara ini yang masih belum dilaporkan. Tidak hanya para orang tua korban, Bupati Wonogiri, Jawa Tengah, Begug Purnomosidi, juga menerbitkan larangan tayangan kekerasan smackdown di televisi. Bahkan Komisi Nasional Perlindungan Anak juga malah menuntut WWE agar bertanggung jawab atas program yang dibuatnya.
McLuhan seorang ahli psikologi komunikasi berpendapat bahwa manusia berhubungan dengan televisi sudah tidak hanya melihat atau menonton lagi, tapi sudah terlibat didalamnya. Ditambah dengan kemajuan teknologi sekarang dan berbagai permainan yang berbau kekerasan. Prilaku anak dapat dijerumuskan dalam tayangan atau game yang lebih melibatkan imajinasi, ilusi, dan impresi anak secara langsung.
Prilaku imitative atau meniru sangat menonjol pada anak-anak. Permasalahan ini diperparah karena kemampuan berpikir anak-anak yang masih sederhana. Maka cenderung berfikir apa yang ada di televisi adalah yang sebenarnya. Anak-anak masih sulit membedakan antara yang fiktif dan nyata. Anak-anak juga masih sulit membedakan antara yang baik sesuai norma dan etika, agama dan hukum.
Ron Solby dari Universitas Hardvard secara terperinci menjelaskan beberapa dampak kekerasan dalam televisi. Diantaranya terhadap dampak agresor anak. Dampak lainnya anak menjadi penakut dan semakin sulit mempercayai orang lain. Dampak pemerhati, anak kurang peduli terhadap kesulitan orang lain. Dampak nafsu adalah meningkatnya keinginan anak untuk melihat atau melakukan kekerasan dalam mengatasi setiap persoalan.
Menurut Aletha Huston, Ph.D dari University of Kansas, anak-anak yang menonton kekerasan di TV lebih mudah dan lebih sering memukul teman-temannya. Tak mematuhi aturan-aturan kelas, membiarkan tugas tidak selesai, dan lebih tidak sabar dibanding teman-temannya yang tidak menonton kekerasan di TV.
Dari berbagai pernyataan diatas jelaslah bahwa smackdown merupakan sebuah tontonan yang dapat mempengaruhi kejiwaan anak-anak. Karena smackdown merupakan adegan yang mempertontonkan kekerasan. Dan juga diperparah lagi karena dalam adegan smackdown tidak jarang ditemui adegan saling umpat dan ejek. Karena pada dasarnya tontonan ini merupakan tontonan yang paling banyak adegan mengumpat, mengejek dan saling pukul. Maka jikalau anak-anak menonton adegan ini maka secara lambat laun rusaklah moral anak tersebut.

3. Bahaya Selain Smackdown

sebetulnya tidak hanya smackdown yang menampilkan ajaran kekerasan ini. Tetapi banyak tayangan televisi yang sebetulnya juga menampilkan adegan kekerasan. Sebagai contoh acara yang sangat digemari anak-anak yaitu acara tom and jerry. Acara ini begitu populer. Namun didalamnya sarat dengan kekerasan. Sebagai contoh didalamnya sering ada adegan ketembak, digebuk, meledak sampai ketiban bongkahan batu.
Selain bahaya kekerasan fisik, ternyata masih banyak film yang pengaruhnya bisa dianggap enteng. Tetapi pada dasarnya dapat memberikan pendidikan yang jelek terhadap anak-anak. Sebagai contoh maraknya film remaja yang menampilkan adegan percintaan dan gaya hidup bebas antara cowok dan cewek, termasuk seks bebas didalamnya. Acara-acara eprti ini secara tidak langsung dapat memberikan inspirasi kepada pemirsanya untuk melakukan hal yang sejenis.

4. Siapa Yang Bertanggung Jawab

Berbagai pihak tampaknya berperanan dalam terjadinya kekerasan pada anak yang diakibatkan televisi. Orang tua, guru, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Komisi perlindungan anak, lembaga swadaya masyarakat, media masa atau instansi pemerintah berperanan dalam pencegahan permasalahan ini. Melihat berbagai permasalahan yang ada tersebut, tampaknya orang tua yang paling berperanan dalam proses pencegahan terjadi kekerasan yang diakibatkan oleh media elektronik. Orangtua harus mencermati perilaku anaknya secara cermat. Bila anak berperilaku agresif sebaiknya harus berkonsultasi dengan profesional kesehatan. Orang tua dengan anak berperilaku seperti itu harus lebih waspada dalam penggunaan media elektronik yang berkaitan dengan kekerasan. Orang tua lebih dulu membuat batasan pada dirinya sebelum menentukan batasan bagi anak-anaknya. Usahakan televisi hanya menjadi bagian kecil dari keseimbangan hidup anak. Anak-anak perlu punya cukup waktu untuk bermain bersama teman-teman dan mainannya, untuk membaca cerita dan istirahat, berjalan-jalan dan menikmati aktifitas lainnya bersama keluarga. Harus ditetapkan jenis permainan atau tontonan serta seberapa banyak kegiatan menonton televisi dan bermain playstation bisa dilakukan. Perencanaan ini bertujuan agar kegiatan itu hanya sebagai pilihan, bukan kegiatan utama.
Pengelola stasiun televisi hendaknya mempunyai tanggung jawab moral terhadap program yang ditayangkannya. Persaingan di antara stasiun televisi kini semakin ketat. Mereka bersaing menyajikan acara-acara yang digemari penonton, bahkan tanpa memerhatikan dampak negatif dari tayangan tersebut. Padahal penonton televisi sangatlah beragam, di sana terdapat anak-anak dan remaja yang relatif masih mudah terpengaruh dan dipengaruhi. Sementara itu para orang tua terus sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, tanpa memperdulikan kondisi yang tengah terjadi antara televisi dan anak-anaknya. Seringkali stasiun televisi sudah merasa cukup menjalankan produksi pemberitaan dan informasi bertema kriminalitas sesuai dengan kaidah teknis objektivitas berita, tanpa mau mempertimbangkan dampak etis pemberitaannya.
Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Komisi perlindungan anak, lembaga swadaya masyarakat, media masa atau instansi pemerintah terkait secara lintas instansi bekerjasama secara berkesinambungan dan tanpa henti mengevaluasi, mengkritisi, mengkoreksi atau kalau perlu memberi teguran dan sangsi sesuai wewenangnya. Semua bentuk kekerasan yang terdapat pada berbagai media eletronik seperti televisi, VCD play station, internet, atau berbagai bentuk game elektronik yang berkaitan dengan anak harus diawasi secara ketat. Jangan sampai setelah banyak timbul korban, baru tersadar dan akhirnya perilaku saling menyalahkan yang terjadi. Harus disadari ancaman pengaruh media eletronik terhadap perilaku kekerasan anak ternyata bukan hanya sekedar acara ”smackdown”.

Sumber-Sumber Bacaan
1. http://www.kompas.com (Smackdown Pun Meresahkan Italia!), Jum’at, 15 Desember 2006,
2. http://www.tempo-interaktif.com (Tiru Gaya Smackdown, Dua Murid Patah Tulang), Sabtu, 02 Desember 2006,
3. http://www.tempo-interaktif.com (Komnas Minta Tanggung Jawab WWE), Jum’at, 01 Desember 2006,
4. http://www.tempo-interaktif.com (Bupati Wonogiri Edarkan Larangan Menonton Smackdown) Jum’at, 01 Desember 2006,
5. http://pdpersi.co.id (”Smackdown” Biangnya Kekerasan Anak?), Rabu, 29 November 2006,
6. http://www.mediaindo.co.id (EDITORIAL: Korban Smackdown), Rabu, 29 November 2006,
7. http://www.e-psikologi.com (Faktor Penyebab Prilaku Agresi), Jakarta, 10 Juni 2002,
8. http://www.dudung .net (Jagoan-Jagoan Yang Berbahaya), 20 Juli 2001,
9. http://www.buletinstudia.multiply.com (Bukan Cuma Smackdown), 11 Desember 2006